Milan, sebuah Pengalaman yang Luar Biasa


Post sebelumnya : Tersesat di Bordeaux, kota transit sebelum Milan.

Setelah sampai di hotel di Milan, hal pertama yang gue cari adalah restoran. Kebetulan di sebelah hotel gue, tepat di depan stadion San Siro, terdapat sebuah restoran bernama American Graffiti. Berhubung restoran ini juga direkomendasikan oleh TripAdvisor, dan hari juga sudah malam, maka gue langsung meluncur kesana.

Sebelum masuk ke dalam pun, gue sudah langsung kagum dengan konsep desain restoran ini. Restoran ini didesign menyerupai diner di pinggiran kota di Amerika, dengan ciri khas lampu neon dan warna yang nyentrik. Dalam hal ini, penggunaan warna yang dominan adalah merah. Di sekeliling temboknya, terdapat poster khas jalanan Amerika, dengan beberapa pop art menarik di sebagian ruangan.

Menu di restoran ini sangat beragam, mulai dari snacks, steak and grill, sampai desserts seperti milkshake dan pancake. Mereka juga menjual beer yang cocok banget untuk menghangatkan suasana malam musim dingin. So, gue dan Ci Siska memesan segelas beer, coca cola, onion rings, dan campuran panggangan mereka yakni Nebraska Grill.

As expected, pemeran utama dari restoran ini adalah Nebraska Grillnya. Campuran dari daging babi, sapi, dan ayam yang dibakar dengan sempurna dan bumbu yang gurih. Rasanya sungguh nikmat, dan bisa dibilang merupakan salah satu makanan terbaik gue selama di Eropa.

Kalau dengan penjelasan gue saja rasanya tidak cukup. Biarlah foto makanannya yang berbicara. Oh ya, harganya adalah €12 untuk Nebraska Grill ini.

Keesokan paginya, gue langsung menuju ke Duomo, pusat wisata di kota Milan, dimana terdapat salah satu katedral terbesar di Eropa. Daerah sekitar katedral Duomo pun penuh dengan tempat menarik untuk dikunjungi, mulai dari cafe-cafe keren untuk nongkrong cantik, sampai restoran pizza dan snack yang luar biasa enak.

Salah satu cafe cantik itu adalah Panini Durini, sebuah sandwich shop yang juga merupakan coffee shop. Disini gue pesan Salami Toast dan Roast Turkey Panini. Untuk Salami Toast, rasanya unik, dimana paduan bacon dengan sayur asin menjadi satu, ditambah dengan Gorgonzola cheese. Sedikit terlalu asin, tapi masih acceptable. Roast Turkey Panini-nya sama sekali tidak mengecewakan! Daging kalkun panggang yang dipadu dengan smoked cheese, membuat rasa panini ini menjadi tidak terlupakan.

Cappuccino-nya juga lumayan asik, low acidity dan rasanya cenderung nutty dengan sedikit rasa coklat. Perfect companion to start the day! Yang mengagetkan adalah harganya yang hanya €2 per cup. Padahal di Perancis harga kopi rata-rata sampai €4 per cup.

Salami Toast – €4.5
Roast Turkey Panini – €5
Cappuccino – €2 each

Namanya juga turis, belum afdol kalau belum foto di depan Cathedral Duomo.
Setelah puas berfoto, gue pun langsung mengunjungi Christmas Market yang ada di sekitar Cathedral Duomo
Hot Chocolate yang at the right place and at the right time

Di Christmas Market Milan ini, gue mencoba hot chocolate. Rasanya enak banget! Coklatnya dominan pahit, tetapi ada sedikit rasa manis untuk melengkapi. Yang pasti, kehangatan di tengah-tengah kedinginan winter Eropa membuat hot chocolate ini nikmat banget untuk dinikmati. Hot Chocolate ini harganya €2. Bisa tambah whipped cream juga dengan cuma €0.5.

Setelah puas berkeliling di Christmas Market, gue menuju ke tempat gelato rekomendasi Steju, teman gue yang pernah tinggal di Milan. Cioccolatitaliani namanya, dan letaknya masih di sekitar Duomo juga. Gue mencoba salah satu signature gelatonya bernama “Happy Cone”, yang merupakan campuran Milk Chocolate dari Dominican Republic, Salted Butter Caramel, dan Milk Cream with Nutella. Definitely one of the best gelato I’ve ever tasted.

Happy Cone Gelato from Cioccolatitaliani

Salah satu saran yang selalu gue ikuti dalam traveling adalah : “Go with the queue” atau ikutilah antrian. Biasanya, ketika ada antrian, ada sesuatu yang menarik disana. Dekat gelato Cioccolatitaliani, terdapat sebuah toko roti pernama Luini Panzerotti yang ramainya minta ampun. Sempat direkomendasikan juga oleh teman gue. Ternyata Luini ini mirip dengan kue bantal, tetapi dengan filling yang beraneka ragam. Gue memesan ham and cheese luini, dan juga apple struddle luini. Keduanya rasanya sangat enak! Sayang gue tidak sempat memfoto penampakan luini-nya, saking crowdednya daerah sekitar toko.

Selain Luini, antrian panjang juga gue temukan di salah satu kedai pizza dekat Duomo. Spontini namanya. Disini, hanya terdapat 3 pilihan pizza, yakni Mediterranea, Margherita, dan Prosciutto. Pilihan gue akhirnya jatuh kepada Margherita, yang merupakan gabungan antara pomodoro, mozarella, dan oregano.

Pizza di Spontini dijual perslice, dan ukurannya sangat besar. Jika tidak ingin makan yang terlalu berat, satu slice Pizza bisa untuk 2 orang. Dan tidak heran pizza ini bisa memiliki antrian yang begitu panjang. Keju yang melimpah di atas sauce pomodoro menghasilkan rasa yang luar biasa. Melihat kejunya yang begitu tebal saja sudah membuat air liur gue menetes.

Setelah menyantap Pizza Spontini, gue kembali ke hotel untuk mempersiapkan diri sebelum nonton pertandingan sepakbola antara AC Milan VS Atalanta. Gue menyempatkan diri untuk memfoto stadion San Siro yang begitu megah, dengan arsitektur yang terlihat kuno tetapi authentic dan grande.

Tidak sulit untuk mendapatkan tiket pertandingan AC Milan vs Atalanta ini. Gue membeli tiket sekitar 1,5 bulan sebelum pertandingan melalui website viagogo.com. Proses pembeliannya juga sangat mudah, tetapi ada beberapa seat yang tidak dapat dibeli karena khusus pemegang kartu member fans club AC Milan. Tiket yang gue beli harganya IDR 700.000an, dan tempat duduk gue ada di dekat titik corner, hanya agak ke atas sedikit.

Pertandingan dimulai pada pukul 6 sore, dan gue sudah sampai di dalam stadion dari pukul 4.45. Tujuannya adalah untuk menghindari crowd yang terlalu padat, dan untuk melihat para pemain melakukan pemanasan sebelum pertandingan.

Sebelum pertandingan dimulai, semua orang masih diperbolehkan untuk turun ke bawah, meski tidak sampai ke lapangan, untuk melihat para pemain pemanasan dari dekat. Tetapi, setelah pertandingan dimulai, semua sudah berada di seat masing-masing dan kondisi disana sangat teratur.

Pengalaman nonton pertandingan sepakbola ini sungguh luar biasa! Seru banget! Atmosfir di dalam lapangan sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan nonton di rumah. Semua orang bersama-sama menggerutu ketika permainan tim dukungannya buruk, dan sebagian orang terus menerus menyoraki dan menyemangati tim mereka sepanjang pertandingan. Semua orang berteriak teriak, dan nyanyian yel yel yang diutarakan fans AC Milan membuat bulu kuduk gue merinding. Definitely a must do if you go to Europe, especially for football fans!

Sayangnya, dalam pertandingan yang gue tonton ini AC Milan kalah 0-2, dan gue tidak sempat merasakan atmosfir teriakan fans ketika Milan mencetak gol. Yang banyak hanya mendengar mereka mengomel dan menggerutu sepanjang pertandingan.

Foto diambil jauh sebelum pertandingan dimulai, jadi masih sepi.

Sepulang dari San Siro, gue langsung beristirahat di hotel. Kaki rasanya menggigil setelah duduk selama 3 jam di ruangan terbuka saat musim dingin. Gue pun beristirahat, dan keesokan harinya gue langsung berangkat menuju ke Lucerne, Swiss.

Selama di Milan, everything feels right. Harga makanan dan minuman lebih murah dibanding negara lainnya, dan suasana kota juga sangat bersahabat. Boleh dibilang Milan adalah kota favorit saya dalam Eurotrip kali ini.

Sebagai penutup, izinkan gue untuk share foto indahnya stasiun kereta Milano Centrale.

Milano Centrale, stasiun kereta terbesar di Milan

Post berikutnya : Natal Bersalju di Lucerne dan Mount Titlis

Related Posts

Komentar

  1. Natal Bersalju di Lucerne dan Mount Titlis | logue.id

    April 10, 2018 at 9:44 am

    […] Post sebelumnya : Milan, sebuah pengalaman yang luar biasa. […]

  2. Tersesat di Bordeaux, transit sebelum Milan

    August 21, 2018 at 7:22 am

    […] Post berikutnya : Milan, sebuah pengalaman yang luar biasa. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *