Saya Ini Cukup

Sewaktu kecil, gue bisa digolongkan sebagai over-achiever. Waktu SD, SMP, dan SMA, gue banyak menerima awards untuk desain, dan bahkan ketika SMA pun gue sudah bisa cari uang dari kerjaan freelance design. Bukan untuk sombong, tapi gue share ini untuk menceritakan bahayanya menjadi over-achiever.

Menjadi over-acheiver di usia muda membuat gue menjadi over PD. Berkembanglah sebuah ide di kepala gue bahwa menjadi mediocre itu adalah menakutkan, dan bahwa gue harus menjadi over achiever di sepanjang hidup gue.

Well, life kicks in, dan setelah menghadapi beberapa masalah di usia early-twenties, gue berada di titik dimana gue itu jauh di bawah mediocre. Dan ini membuat gue stress habis-habisan.

Itulah bahayanya menjadi over-achiever di usia muda. Kita menjadi congkak, dan kenyataan bahwa hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan menjadi sebuah batu sandungan buat kita. 
Hal ini membuat gue jadi susah bersyukur. Dapat project senilai puluhan juta, masih berharap bisa dapat yang ratusan juta. Gue jadi tidak pernah puas sama apa yang gue dapat.

Inilah pelajaran berharga yang gue dapatkan dengan berat : Kebahagiaan itu bukan seberapa banyak yang kita dapat, tapi seberapa banyak kita bersyukur.

Dengan bersyukur, gue tidak lagi merasa kekurangan dalam hidup gue, meskipun gue masih pake Mobilio dan bukan Dodge Journey seperti impian gue. Gue menjadi lebih bahagia, meskipun hidup gue tidak sempurna. 
Belajar bersyukur itu sulit, tetapi dari semua pelajaran yang ada diluar sana, bersyukur adalah pelajaran yang menurut gue perlu dipelajari semua orang.

Termasuk kamu. Yuk, kita belajar bersyukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *