The Traders Coffee Pantai Indah Kapuk Review

*Note : This post is in Bahasa Indonesia

Pantai Indah Kapuk bukanlah sebuah daerah yang dekat dengan kehidupan saya. Terletak jauh dari rumah saya di Sunter, satu-satunya kunjungan saya ke daerah tersebut adalah ketika saya mengunjungi Waterbom pada 2008 lalu.

Karena suatu hal yang ingin saya sebut sebagai Destiny, daerah Pantai Indah Kapuk pun menjadi daerah yang sering saya lewati.  Selain rumah makan iga penyet Tekko dan Lekko yang sangat menyita perhatian, ada sebuah Cafe yang begitu menarik perhatian saya, yakni The Trader’s Coffee Bull and Bear yang terletak di Ruko Bukit Golf Mediterania (tepat seberang Waterbom Jakarta).

Akhirnya saya pun mengunjungi Cafe ini pada hari Sabtu 25 Juni yang lalu. Sampai di lokasi pada pukul 1.30PM, saya bersama dengan someone-special saya, Ica, menjadi satu-satunya pengunjung The Trader’s Coffee.

Kesan pertama saya ketika memasuki The Trader’s Coffee adalah “Adem beneeer”. Ya, saat itu matahari bersinar sangat terik, dan Cafe yang dingin dan homey ini terasa seperti surga dunia. Selain ruangan indoor tersebut, disediakan juga tempat outdoor bagi pengunjung yang merokok. Tempat outdoor tersebut terlihat cukup nyaman dengan tenda di atasnya, sehingga tidak perlu takut diganggu turunnya hujan.

Sesuai namanya, The Trader’s Coffee memiliki konsep sebagai Cafe bagi para “traders”, atau pedagang. Hal tersebut terlihat dari dekorasi interior cafe, dimana terdapat quotes dari BusinessmanBusinessman tebesar dunia di dinding. Selain quotes tersebut, terdapat juga informasi mengenai sejarah BEI. Dari hasil googling, saya mendapati Cafe yang baru dibuka pada bulan Mei 2011 ini memiliki pemilik yang sering mengadakan edukasi dan obrolan seputar dunia saham. Namun sayang sekali pada siang hari itu saya hanya bertemu dengan Waiter dan Barista-nya saja, jadi saya kurang mendapat informasi mengenai hal ini.

Interior dari The Trader’s Coffee. Cukup Homey. 🙂
Quotes dari Businessman-Businessman ternama. Well illustrated!

Okay, setelah puas mengamati suasana dan interior Cafe, saya mulai memilih menu yang ingin dipesan. Sebagai penggemar kopi, saya memesan Iced Hazelnut Latte, dan Ica memesan Oreo Tiramisu. Untuk menu makanan, kami berniat memesan Apple Pie dan Kaya Toast, tetapi sayang sekali pada saat itu Apple Pie sedang Out Of Stock, sehingga kami hanya memesan Kaya Toast saja.

Berhubung saya dan Ica adalah satu-satunya pengunjung The Trader’s Coffee pada saat itu, dalam beberapa menit pesanan kami datang. Saya memulai dengan meneguk Iced Hazelnut Latte yang saya pesan. Cuaca yang begitu terik membuat Iced Hazelnut Latte ini terasa begitu refreshing. Flavor Hazelnut yang ditawarkan memang sedikit kurang kuat, tetapi  Milk Froth (Busa susu di atas Latte) memiliki tingkat kehalusan yang pas dan menambah citarasa dari minuman ini. Dengan harganya yang relatif murah (IDR 25.000) untuk sebuah Latte berkualitas, Iced Hazelnut Latte menjadi salah satu minuman rekomendasi saya dari The Trader’s Coffee.

Oreo Tiramisu yang dipesan Ica juga tidak kalah menarik. Bagian atas dari Ice Blended drink ini dihias dengan Whipped Cream yang ditaburi bongkahan Oreo. Ketika diminum, rasa yang lebih menonjol adalah flavor dari Tiramisu. Harga dari Oreo Tiramisu sama dengan Iced Hazelnut Latte, yakni IDR 25.000. Saya termasuk orang yang tidak terlalu menyukai minuman Ice Blended, tetapi bagi mereka yang menyukai minuman manis, Oreo Tiramisu patut dicoba.

Makanan yang kami pesan, yakni Kaya Toast, datang beberapa menit setelah minuman kami datang. Sayang, Kaya Toast dari The Trader’s Coffee terasa tidak jauh berbeda dengan Kaya Toast yang biasa saya buat di rumah. Hal tersebut mengurangi speciality dari menu ini, dan harganya cukup mahal (IDR 15.000) untuk sebuah roti panggang rumahan.

The Trader’s Coffee memiliki jaringan Wi-Fi cepat. Hal ini-lah yang membuat saya dan Ica betah berada di Cafe ini. Dengan asik kami saling melihat foto kami masing-masing di Facebook, dan tanpa terasa jutaan kalori pun kami buang untuk tersenyum dan tertawa.

Menjelang sore, pengunjung pun mulai ramai berdatangan, dan Cafe pun hampir penuh. Ada yang menonton pertandingan bulutangkis (Indonesian Open), ada seorang ibu yang asik mendownload game di iPadnya (Maaf tante, saya kepo ngintip kerjaan tante :P), dan ada juga yang memang datang untuk mengisi perut dengan menu main course.

Iced Hazelnut Latte dan Oreo Tiramisu. Mereka terlihat manis saat berdampingan ya? 😀
Kaya Toast! Tampilan yang menarik, tetapi sayang, rasanya kurang spesial.

Tanpa terasa, 4 jam telah saya lewatkan dengan menyenangkan bersama Ica. Overall, The Trader’s Coffee layak dijadikan tempat nongkrong, dengan nuansa Cafe yang homey, Menu Beverage yang berkualitas, dan harga yang relatif murah. Semoga di kunjungan berikutnya saya dapat mencoba Apple Pie-nya.

Ambience : 9/10.
Beverage : 8/10.
Food : 7/10.
Service : 8/10
Pricing : 10/10.
Overall Score : 8.5/10
.

Comments

  1. Pingback: KrangKring : Where I found the magnificent Ice Poffertjes. | Yohanes Steven Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *