I got so much to thankful for!

Side note : Tujuan awal saya menulis adalah untuk mengeluh. Tidak pernah terpikir bahwa pada akhirnya saya bisa menemukan hal positif di balik semua ini. Semua pikiran thankful itu mulai masuk ke kepala saya ketika saya menceritakan kembali my coffice era, yang merupakan era terbaik dalam hidup saya sampai saat ini.

Saya tidak suka mengeluh, dan saya juga tidak suka melihat orang mengeluh. Tetapi saat ini, hati kecil saya berkata bahwa saya perlu mengeluh. Mungkin saja, dalam keluhan saya menemukan jawaban? Lagipula, apa gunanya blog pribadi kalau bukan untuk buka-bukaan?

One year ago, It was all so good, and my life seems perfect.

Saya menjalani kehidupan yang saya impikan : memiliki sebuah bisnis di dunia kreatif, dengan kantor berupa coffee shop. Memang, bisnisnya tidak selalu mulus : banyak suka dan duka yang saya hadapi, but I am really happy!

Saya senang sekali bisa berkumpul bersama teman-teman yang datang ke coffice (coffee shop office) kami setiap harinya : ada yang datang untuk belajar web desain, ada yang datang untuk mengerjakan proyek secara freelance yang kami tawarkan, dan lain lain. Saya senang sekali bisa bertemu dengan client-client baru, yang Thanks God selalu bertambah setiap minggunya. Bahkan ketika ada masalah dengan proyek, saya tetap bisa bahagia membicarakannya dengan siapapun yang saya temui : partner, teman, gebetan, keluarga, dan semuanya. I was so happy and passionate!

Kebetulan kantor yang berupa coffee shop tersebut hanya dapat disewa selama 4 bulan. Setelah 4 bulan, owner coffee shop tersebut menutup kantor itu dan pada akhirnya saya harus menjalani bisnis tanpa kantor, dan Raymond, sahabat saya sekaligus co-founder bisnis tersebut pun memutuskan untuk meninggalkan bisnis ini, karena alasan pribadi.

Is everything end badly? Not everything. Sebelum Raymond keluar dari bisnis ini, kami bertemu dengan seorang wirausahawan sukses (SH). Meski pada meeting pertama ia menekan kami sampai kami merinding gemetaran, tetapi keesokan harinya ia menawari kami sebuah proyek besar. Alih-alih menawari proyek, ia mengajak kami untuk berpartner dengannya. Wow, this is huge!

Akhirnya Raymond pun keluar, dan saya berjalan sendirian bersama dengan SH yang tidak hanya sebagai partner, tetapi juga mentor bagi saya. Teman-teman yang setiap hari datang ke coffice untuk belajar dan mengerjakan proyek dari kami sekarang sudah memiliki karir masing masing, dan rata-rata sukses. Bahkan ada teman saya yang tiba-tiba bercerita bahwa bosnya bertanya kepadanya, “tau Tentu Creative? Kok banyak anak Binus yang IPnya tinggi, di CVnya ada pengalaman kerja di Tentu Creative yaa?” The happiness is unimaginable.

Saya sendiri melanjutkan karir dengan mendirikan sebuah company, bersama SH,  yang mengembangkan cloud-based management system untuk perusahaan-perusahaan, terutama perusahaan-perusahaan yang dipegang oleh SH. Company ini terdiri dari tim berjumlah 5 orang (termasuk saya), and it was a pretty awesome team!

Hari ini, kira-kira setahun kemudian, yang ada bagi saya hanyalah kegelapan. 

Beberapa bulan berjalan, kehidupan pribadi saya mulai kacau. Masalah bermunculan, baik di hubungan dengan keluarga, hubungan dengan pacar, dan juga kondisi keuangan di company. Tekanan yang ada membuat saya kembali ke fase yang pernah saya alami ketika kecil, yakni fase depresi. Saya mulai sering kehilangan kontrol akan tubuh saya, sehingga menyebabkan peristiwa-peristiwa menyeramkan, baik di rumah maupun di tempat umum. It’s a mental disorder caused by a trauma in the past.

It was very dark. Dua bulan saya tidak dapat ke kantor. Saya juga tidak dapat berkomunikasi dengan orang luar, yang berakibat pada hilangnya hubungan saya dengan Client-client saya. Saya melewatkan wisuda S1 saya. Saya juga kehilangan sangat banyak hal lainnya, yang belum bisa saya ceritakan sekarang.

Setelah pengobatan dari psikiater, psikolog, dokter saraf, dan hipnoterapi, perlahan-lahan memang kondisi saya sudah membaik, dan saya sudah dapat pergi ke kantor setidaknya 3 kali dalam seminggu. Tetapi, masih sulit rasanya berkomunikasi dengan orang luar. Saya masih sering collapse.

Dalam masa membaik ini, saya mencoba merekonstruksi hidup saya, tetapi nothing feels right.

Saya mencoba kembali ke dunia yang dulu saya cintai : 3D Art. Ketika saya kelas 1 SMA, saya menciptakan sebuah 3D Art, dan mendapat 600 Favorites. Saya mencoba menciptakan sebuah karya, dan jumlah favorit yang saya dapatkan adalah 1, alias 599 lebih sedikit dari 6 tahun yang lalu. I lost my touch!

Saya mencoba menulis, menciptakan blog, dan membuat akun twitter untuk blog tersebut. Sudah hampir satu bulan, dan jumlah followersnya adalah… 1. Memang, saya tidak pernah mengajak teman-teman untuk memfollow dan saya pun belum serius dalam menggelutinya, tetapi melihat statistik yang ada, Man, that sucks. I sucks, big time.

Why should things like this always happened to me, Lord? Why should I be different from my friends? Why am I very weak? I have been weak since I was kindergarten : I always bad at sports. I can’t swim well : I swim 2 times slower than my friends. It’s like I don’t have any athleticism in me. I got tired easily. I got cancer. Now, I got this mental disorder. Why, God? Why?

Today, I see my friends are all succeeding, while I got thrown three miles back from my dreams, and it’s like I got no feet left to run. I tried doing what I think I love : writing and designing, but I got no results.

But, I believe, Lord. I believe that You will not open a door for me and close it suddenly. I know that You are teaching me a lesson, and I will prove to You that I am a good learner. 

I’ve learned so much already : That I got so much to be thankful for. So I will stop complaining and start being thankful.

I am thankful this condition happens : because it taught me a very precious lesson, and it will forge me into a brighter diamond.

I am thankful for my body. I maybe weak, but I can still walk, run, and jump, drive, write, type, read, hear, listen, and talk. 

I may got cancer, but it taught me how precious life is. 

I may not be athletic and I might be the weakest guy in the room in a gym or a swimming pool, but it reminds me that everyone has their own weaknesses. It also taught me that nothing is easy in life, and sometimes we need to work harder than we could.

I am thankful for all doctors, psychiatry, and therapist that helped me one step closer to recovery. I am thankful of security officers at my office, some malls (for their heroic act of lifting my body all the way from parking lot to clinic), a lot of friends at JCC Plenary Hall who helped me. I am thankful for neighbors and security at my neighborhood who helped lifting my body when I collapsed in the middle of the street.

I am thankful for everyone around me who always be there for me even though I always make life harder for them : my family, friends, and colleagues. They always there to hear my stories, to lift my body when I collapsed (literally), to cheer me up, to pay for my expensive treatments, etc.

I am thankful for my close-friend who put all efforts to make me better, even though some of the methods are wrong, but all the purposes are good, and I am thankful to God that I met you and I hope we can stay friends forever.

Wow. Tujuan awal saya menulis adalah untuk mengeluh. Tidak pernah terpikir bahwa pada akhirnya saya bisa menemukan hal positif di balik semua ini. Semua pikiran thankful itu mulai masuk ke kepala saya ketika saya menceritakan kembali my coffice era, yang merupakan era terbaik dalam hidup saya sampai saat ini.

I got so much to thankful for! And I believe I will find a new reason to be thankful, every moment in my life. Maybe you have one also, in this very moment.

Thank you for reading my personal story!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *